18:49Zunia Umi Nur Rohmah, Duta Bahasa Nasional 2026, Provinsi Sulawesi Tengah
Tentu. Kalau yang kamu mau bukan lagi seperti narasi penjelasan, tetapi benar-benar terasa seperti sebuah cerita yang sedang dituturkan, alurnya bisa dibuat lebih mengalir: mulai dari keunikan asal-usul → munculnya Lilimbuta → karakter dan perjalanannya → cinta → makna cerita bagi kita. Ada sebuah kisah dari Buol yang selalu membuat saya percaya bahwa setiap manusia punya cerita tentang bagaimana ia pertama kali hadir ke dunia. Konon, dahulu kala, dari sebuah buluh yang terbelah, lahirlah dua sosok yang kemudian dipercaya sebagai leluhur Suku Manurung: Lilimbuto dan Lilimbuta. Di antara kisah itu, ada Lilimbuta—seorang gadis yang tidak hanya dikenal karena asal-usulnya, tetapi karena keberaniannya menjalani kehidupan. Ia tumbuh sebagai sosok yang percaya pada suara hatinya. Ketika banyak orang mungkin memilih untuk ragu, Lilimbuta justru berani melangkah. Ia mengikuti intuisinya, membawa cahaya dalam setiap perjalanan, dan menghadirkan kedamaian bagi orang-orang di sekitarnya. Namun, perjalanan Lilimbuta tidak berhenti di sana. Keberanian membawanya pada sebuah pertemuan yang tidak pernah ia duga. Sebuah pertemuan dengan cinta yang kemudian mengubah arah hidupnya. Dari sinilah saya melihat bahwa cerita Lilimbuta bukan hanya tentang seorang gadis, bukan pula sekadar kisah cinta atau legenda tentang asal-usul. Ia adalah cerita tentang keberanian untuk menjalani jalan yang kita percaya, tentang bagaimana sebuah pilihan dapat mengubah kehidupan, dan tentang nilai-nilai yang diam-diam diwariskan melalui cerita. Mungkin bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah legenda dari masa lalu. Tetapi bagi saya, cerita seperti inilah yang membuat sastra menjadi begitu berarti. Sebab di balik setiap tokoh, tempat, dan peristiwa, selalu ada nilai yang sedang dititipkan. Leluhur mungkin tidak pernah tahu kepada siapa cerita itu akan sampai. Namun mereka tetap mewariskannya. Dan kini, cerita itu sampai kepada kita. Tugas kita bukan hanya mendengarkannya, tetapi memastikan ia tetap hidup—diceritakan kembali, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena selama sebuah cerita masih memiliki seseorang yang mau menceritakannya, selama itu pula jejak leluhur belum benar-benar hilang.






