18:49Muhammad Berlian, Duta Bahasa Nasional 2026, Provinsi Sumatra Barat
Salah satu warisan sastra lisan tanah Minangkabau Adalah falsafah kepemimpinan yang dikenal dengan sebutan "Tigo Tungku Sajarangan". Falsafah ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Minang yang mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak dipegang oleh satu pihak saja, melainkan diemban bersama oleh tiga unsur yang saling melengkapi. Ketiga unsur tersebut adalah Niniak Mamak, yang berperan sebagai penjaga adat sekaligus pemimpin dalam musyawarah; Alim Ulama, yang membimbing kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai agama; serta Cadiak Pandai, yang berperan sebagai pemberi gagasan dan penengah masalah melalui pemikiran yang cerdas dan rasional. Ketiga peran ini diibaratkan seperti tiga tungku tradisional yang menopang sebuah kuali di atas api. Apabila salah satu tungku tidak sama tinggi dengan yang lain, maka kuali akan miring dan isinya berisiko tumpah. Demikian pula dalam sistem kepemimpinan apabila satu unsur mendominasi tanpa mempertimbangkan unsur lainnya, keseimbangan dalam masyarakat akan terganggu. Melalui falsafah Tigo Tungku Sajarangan, masyarakat Minangkabau menanamkan nilai-nilai penting seperti musyawarah untuk mufakat, penghormatan terhadap pendapat orang lain, serta tanggung jawab kolektif dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai ini mengajarkan Berlian bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari satu suara, melainkan dari keberagaman peran yang mampu berjalan berdampingan. Keseimbangan, dan penghormatan terhadap setiap pandangan menjadi refleksi penting baginya dalam menjalani peran sebagai generasi muda yang bergerak di ruang komunikasi, budaya, dan kebahasaan. #TigoTungkuSajarangan #BudayaMinangkabau #SastraLisan






